Posts

Bersamamu Kuraih Surga (8)

Setelah operasi pengangangkatan rahim, Hanum merasa sebagai wanita yang tidak sempurna. Hanum berulangkali memberikan kesempatan kepada Lukman suaminya untuk menikah lagi. Menikah untuk memperoleh keturunan yang akan meneruskan garis nasabnya. Berulangkali Juga Lukman menolak mentah-mentah sarannya. Hati Mas Lukman selembut sutra seluas samudra, menurut beliau anak bukan segalanya, berbahagia hidup bersama dengan seorang wanita yang sayang dan memahami dirinya sudah lebih dari cukup. Kasih sayang dan sikapnya tidak berubah sedikitpun.   Satu lelaki membuat hidupnya bahagia lahir batin dan In Syaa Allah membimbingnya untuk sampai ke surga.  Sore itu sepulang bekerja, Mas Lukman menerima telepon. Samar Hanum mendengar pembicaraan dari ruangan sebelah. Pembicaraan berlangsung lumayan lama dan serius. Saat makan malam,Mas Lukman membahas pembicaraan sore tadi, ternyata ibu mertua   yang menelepon. Mengabarkan ada seorang ibu yang akan memberikan anak yang masih dala...

Bersamamu Kuraih Surga(7)

Mas Lukman sosok lelaki yang penuh tanggung jawab. Suami yang ideal, sabar dan penyayang. Sosok yang diidamkan oleh para wanita. Hanum bersyukur dan bahagia bisa menjadi istrinya. Keluarga kecil yang harmonis dan bahagia. Usia pernikahan sudah hampir satu tahun, tanda-tanda kehamilan belum pernah dirasakan oleh Hanum. Mas Lukman sendiri tidak menuntut untuk segera memiliki momongan, akan tetapi beliau menyarankan dirinya untuk mengurangi kegiatan. Apalagi usia yang sudah masuk kepala tiga. Hanum menuruti nasehat suaminya untuk mengurangi semua kegiatan. Tidak adalagi kesibukan yang berarti, hanya rutinitas kantor yang biasa saja akan tetapi tanda-tanda kehadiran sang buah hati belum nampak juga. Hatinya mulai resah, empat tahun sudah berlalu, usaha dan doanya tak pernah henti untuk memohon kehadiran seorang anak yang akan meramaikan rumahnya. Kondisi kesehatan Mas Lukman sudah kembali pulih seperti sedia kala. Beraktivitas menjadi seorang dokter di sebuah puskesmas tak jauh d...

Bersamamu Kuraih Surga (6)

saat ini tubuhmu terbujur tak berdaya, pagi tawamu masih ceria, hangat pelukan dan belaian   masih dirasakannya, apakah gerangan yang terjadi pada suami tercinta?. Pola makan dan hidup sehat sudah diterapkan, semua memang takdir, belajar untuk menerima dengan ikhlas. Hanum menggenggam tangan suaminya, berbisik lembut di telinga. Alhamdulillah airmata keluar dari sudut matanya, semoga semua membaik.   Tiga hari berada di ruang ICU dan tak sadarkan diri, dan hari keempat ini kondisinya semakin membaik. Keasadarannya sudah mulai pulih, pertama kali membuka mata dan pandangannya tertuju pada Hanum. Seakan heran dan tidak mengenali istrinya sendiri, nampak kebingungan. Hanum maklum, suaminya mengalami pecah pembuluh darah di otak, menurut dokter kurang lebih dua puluh persen. Dokter juga sudah memberikan penjelasan bahwa memori otaknya akan mengalami sedikit gangguan. Semoga keadaan seperti ini tidak permanen. Alhamdulillah penanganan yang cepat dan tepat kepada Mas Lukman...

Bersamamu Kuraih Surga(4)

Hanum kembali hanyut dalam rutinitas bekerja. Pekerjaan dan sejumlah kesibukan dapat sedikit melupakan kegundahan hati akan pasangan hidup. Siang itu, masih di jam istirahat, layar ponsel bergetar, diliriknya sebentar, ternyata pesan singkat yang masuk. Salam perkenalan dan menyebut nama serta memohon izin untuk menelepon, tertanda Haris. Siapa Haris?, mencoba berfikir, pengirim pesan singkat yang barusan terbaca. Hanum teringat Bu Rubi yang meminta izin memberikan nomor telepon untuk diberikan kepada rekan suaminya. Haris adalah rekan kerja suami Bu Rubi, ini terlihat dari kiriman pesan yang masuk setelahnya. Dari nada berbicara,Hanum mencoba menebak kalau haris berasal dari daerah luar pulau Jawa. Ternyata benar, Haris adalah lelaki perantauan dari Medan.  Beliau bekerja dan jatuh cinta dengan kota udang sehingga berencana untuk menetap, Beberapa kali Haris menelopon Hanum, dari sekedar menanyakan kabar sampai bertanya mengenai pekerjaan. Tiga minggu komunikasi antara di...

Bersamamu Kuraih Surga(5)

Hanum ditangani oleh seorang dokter syaraf. Beliau  dr Lukman, seorang dokter yang santun, Kecerdasan tergambar dari gaya berbicaranya. Teliti dan detail sekali dalam melakukan pemeriksaan. Pagi ini kunjungan dokter seperti biasa dilakukan pukul sebelas siang. Dokter Lukman  datang beserta beberapa calon dokter yang sedang magang, “masih ada keluhan mual dan pusingnya mbak “tanya dr Lukman  “Alhamdulillah sudah tidak dokter “jawab Hanum Dokter Lukman memeriksa jahitan di luka di kepalaku, terlihat darah beku dan jahitan yang ,mulai mengering, beliau berkata “Alhamdulillah, jahitan juga bagus, besok kita buka jahitan”, Tubuh  Mbak panas sekali, demam. dr Lukman memanggil perawat ruangan, beliau bertanya “saya minta hasil cek darahnya pagi ini” Perawat memberikan sebuah kertas, dokter Lukman membaca dan meneliti tulisan diatasnya “ada sedikit infeksi” beri tambahan antibiotik ya, tangannya menulis sesuatu di atas kertas selesai itu diberikan kembal...

Bersamamu Kuraih Surga (3)

Lelaki yang ditunjuk abang bakso terlihat asik dengan layar ponselnya, Hanum beranjak menghampiri “Maaf, ini uangnya saya kembalikan” diulurkan selembar uang dua puluh ribuan. “Saya traktir Mba manis boleh kan” jawab lelaki itu singkat Hanum   tak ingin memperpanjang cerita, merasa lelaki itu tidak mengindahkan perkataannya, reflek diletakkannya lembaran uang diatas meja pemuda tadi sambil berlalu pergi. Sedikit terperangah, laki-laki tadi berusaha mengejar Hanum. Hanum sudah langsug memacu kendaraan sekuat mungkin. Menghindari bahkan kalau perlu tidak usah berjumpa lagi. Memasuki halaman kantor membuat perasaannya lega, tergesa memasuki ruangan dan menutup pintu. Beberapa teman kantor masih berhadapan dengan tim auditor, serius dan nampak sibuk dengan beberapa berkas di meja masing-masing. Untuk laporan keuangan sendiri belum ada revisi kembali. Kembali dibuka hafalan Alquran, memurajaah, mengulang hafalan dan belajar memahami artinya disetiap waktu luang yang tersedi...